Jumat, 24 April 2015

Sebuah Pertanyaan, Ibu Kartini Kini

ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya.”

Aku masih ingat lagu Ibu Kita Kartini yang dulu sering kunyanyikan saat aku masih kecil. Aku lupa kapan tepatnya lagu itu masuk ke dalam kepalaku.

Saat masih sekolah, Aku hanya tahu sedikit cerita tentang R. A. Kartini, Raden Ajeng Kartini adalah putri Adipati Jepara selama masa mudanya beliau berkirim surat dengan temannya yang tinggal di Belanda. Kumpulan surat-surat itu terkenal dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.”



Aku mengenalnya lewat cerita dari guru-guru masa kecilku, kalau Kartini adalah Pahlawan Wanita yang membela kaumnya. Hal apa yang terjadi sampai akhirnya dia harus membela kaumnya? Dan seperti apa perjuangannya? Aku tidak tahu, saat itu hingga usiaku menginjak dua puluhan.

Saat usiaku 21 tahun, dari beberapa teman dan pergaulan yang cukup luas. Aku mengenal sasrawan Pramoedya Ananta Toer yang berasal dari Kabupaten Blora, satu Kabupaten dengannya, aku bangga mempunyai tokoh sastra yang hebat. Dari kawan-kawanku itulah aku mengetahui kalau salah satu karya Pramoedya Ananta Toer ada yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja.”

Dari berbagai artikel pencarianku tentang Kartini saat itu (usia 21 an) sedikit aku tahu tentang Kartini, mungkin kawan-kawan sudah banyak mengetahuinya, jadi Aku tidak perlu menjelaskan tentang perjuangan Kartini yang membela Kaumnya.

Aku jadi ingat kalau Aku sudah membeli buku karya Pramoedya A.T, entah aku yang membeli atau dibelikan kekasihku, aku lupa, yang pasti aku sudah punya namun sama sekali belum kubaca sebab saat itu aku sedang membaca Prison Notebook karya Antonio Gramsci dan Novel Panggil Aku Kartini Saja dipinjam salah seorang kawanku, aku lupa siapa yang meminjam.

Kalau tidak salah ingat, sepertinya aku pernah membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi kumpulan surat Kartini dengan Stella sahabat penanya yang tinggal di Belanda, namun tidak selesai, membosankan membaca kumpulan surat galau pemudi zaman itu. Terlepas dari surat-surat kegalauannya masa itu, aku sangat suka pemikiran-pemikirannya yang kutahu setelah menonton filem berjudul Kartini karya Sjuman Djaja. Pemikiran-pemikirannya  yang mencoba mendobrak budaya patriark dan aturan zaman melalui surat-suratnya.

Karena pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam surat-suratnya dengan Stella, sudah selayaknya R. A. Kartini menjadi pahlawan Nasional. Pada tanggal 2 Mei 1964 Sesuai dengan Keputusan Presiden No 108 tahun 1964 yang saat itu di pimpin oleh Ir Soekarno.

Sejak saat itu setiap tanggal 21 April di peringati sebagai Hari Kartini, tanggal 21 April adalah tanggal kelahirannya.

Banyak sekali acara-acara peringatan Hari Kartini di seluruh Indonesia, yang semakin lama semakin membuatku gelisah akan tradisi memperingati Hari Kartini. Bagaimana tidak? Pada tanggal itu pasti kau akan bertemu dengan wanita-wanita yang menggunakan kebaya dan sanggul, di kantor-kantor maupun di sekolah-sekolahan, seolah-olah feudal jawa sedang menjawanisasi seluruh Indonesia, padahal kan Indonesia bukan hanya jawa!

Tiga hari lalu saat aku memulai tulisan ini mala mini(24 April) adalah Hari Kartini. Teman-temanku yang bekerja di sini (Jogja) adalah Ibu rumah tangga semua, hanya aku yang laki. Dari semua ibu-ibu yang bekerja di sini rata-rata mempunyai anak yang masih duduk di bangku PAUD sampai SMP. Mereka banyak mengeluh mencari tempat sewa pakaian adat jawa satu hari sebelum Hari Kartini sebab semua tempat yang menyewakan sudah penuh dengan penyewa, bukan hanya itu biaya sewanya pun menjadi mahal. Beberapa dari ibu-ibu yang bekerja di sini rela mendandani anaknya agar bisa ikut perayaan peringatan Hari Kartini yang diadakan oleh sekolahnya.

“Aku mumet e mba golek sewan klambi nggo kartinian anakku sesok, neng endi-endi wes do kebak wong nyewo, enek o yo larang rodo adoh sisan karo ngomah, lha anakku yo gemang e yen tak make up I dewe.”
(“Aku pusing mba cari sewa pakaian untuk anakku memperingati Hari Kartini besok, di mana-mana sudah penuh penyewa, kalau pun ada Mahal biaya sewanya pula jauh tempatnya dari rumah. Lha anakku ragu jika aku yang memake up-I nya.”) Kata mba Gita yang sedang membuat tali untuk tas yang sedang dibikin kepada mba Uni.

“Lha iyo, ndlalahe wingi kok yo aku wes golek, sidane entok neng gene mba ……. Gone sedulurku dewe. Lha ngopo e anakmu kok ra gelem mbok make up dewe.”
(“Iya, kebetulan kemarin aku sudah mencari, akhirnya dapat di tempatnya mba …… masih saudara sendiri. Kenapa anakmu kok gak mau di make up sendiri?”) Jawab mba Uni ke mba Gita.

“Halah yo mboh e mba, aku yo ra mudeng, karepku yen tak make up dewe kan murah lha wong ibune yo iso make up i.”
(“Aku tidak tahu dan tidak mengerti, jika aku yang make up sendiri kan hemat, aku juga bisa memake up.”)

Hari itu ditempat kerja para ibu banyak yang bercerita tentang persiapan kartinian untuk anaknya yang sangat merepotkan buatnya.

Lalu muncul pertanyaan di kepalaku, apa harus dengan berkebaya untuk memperingati Hari Kartini? Dan mengapa banyak sekali citra yang bersliweran di berbagai media yang menggambarkan sosok Kartini masa kini adalah seorang wanita yang mapan, mandiri secara ekonomi di tengah kesibukannya juga bisa merawat dan memperhatikan anaknya selain melayani suami? Apa seperti itu kegelisahan Kartini masa itu?

Tulisan ini akan semakin panjang jika kutarik sampai ke Kartini dan Orde baru. Namanya juga sedang belajar menulis, tunggu sampai aku jago ya. ;))))))))))


Awalnya tulisan ini akan kuberi judul “Membunuh Kartini sejak Dini.” Tapi karena masih bingung kerangka tulisannya seperti apa, maka kupending dulu yak. :D

3 komentar: