Jumat, 20 Desember 2013

Tiga Pocong


Aku diberi tiga pocong seukuran jari manis oleh temanku berawakan kecil, berambut gondrong dengan bibir yang selalu mengembangkan senyum, saat itu telah berubah menjadi malam, aku kebingungan, akan kubakar di manakah pocong ini? Jika kubakar di rumah di malam yag sepi ini tidakkah baunya akan tercium? Aku ketakutan jika tiba-tiba ada yang datang menyergapku, akan kubakar di mana tiga pocong ini? Aku meremas-remasnya ketakutan. Jika kubakar, akan kusembunyikan di mana tiga pocong ini? Sungguh hati tidak merasa tenang.



Settingan tempat pun berganti, aku diajak temanku yang memberi tiga pocong ini untuk membakar dan menghisapnya di sebuah waduk, namun itu segera terlewati  begitu saja, sebab aku berangkat menuju waduk tapi kenapa yang tertuju pulang ke rumah? dan aku merasa sudah dari sana. Tercium bau pocong yang sedang dibakar, saat aku membonceng sepeda motor yang dikendarai teman, aku  bertanya kepada temanku, siapa yang berani membakar pocong di tengah keramaian ini? Mataku mencari-cari dikanan jalan sebab di kiri jalan hanya ada sawah yang sedang ditanami padi, oh ternyata dua si gendut yang sedang membakar pocong, si gendut yang satunya sudah teler dan yang satunya ndlongap ndlongop sendirian mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang berwarna coklat bersandar pada pintu yang serupa rollingdoor berwarna coklat namun terbuat dari kayu.

Temanku menurunkanku di depan rumah, katanya ia akan pulang dan berpesan nanti si ikan akan datang menemuiku, tidak lama berpesan seperti itu temanku menghilang, ia seperti siluman, apakah waktu terasa cepat ataukah waktu tidak berlaku di ruangan ini?, si ikan datang dengan kaos berwarna hitam dibagian depan didadanya ada gambar segitiga putih seperti piramida, di puncaknya terdapat sebuah mata, kalau tidak salah itu adalah kaos aksi tangal 12-12-2012 di Semarang. Si ikan mengajakku untuk membakar pocong.

Tiba-tiba saja settingan tempat berganti di sebuah tempat billyard, tempatnya ramai tapi kenapa aku merasa sendiri? tapi kenapa perasaanku ramai? Tiga pocong menghilang  dalam adegan begitu saja tanpa ada adegan pembakaran dan penghisapan. Adegan berganti dengan munculnya kawan-kawan lama yang tidak begitu akrab dengannku? Ada apa ini? Sungguh aneh.

Seorang laki-laki gondrong lewat ditempat billyard, ia memakai kemeja panel berwarna merah hitam kotak-kotak, sebuah topi hitam yang selalu ia pakai dan sebuah ransel berwarna hitam dengan celana kargo berwarna hitam, rambutnya yang gondrong seperti kakaknya terurai bebas. Aku tidak menyapanya, hanya berlari keluar ruangan untuk memastikan yang lewat barusan adalah Ocip. Ya dan itu memang Ocip, aku memanggilnya, dia menoleh dan berkata dia akan ke Semarang. Semarang lewat jalan mana? Mana mungkin ke Semarang lewat jalan yang cukup dilalui sepeda motor saja, mana mungkin dia ke Semarang jalan kaki, sementara aku tidak tahu ini didaerah mana, Jalan yang dituju Ocip itu menukik tajam beraspal hitam di kanan dan kiri jalan nampak sekai hijau padi yang mulai tumbuh. Dia turun ke bawah lalu menghilang, aku kembali masuk ruangan billyard suasana ramai namun tetap aku merasa sendiri.

Tidak lama kemudian saat aku hendak menyodok bola billyard, aku heran sejak kapan aku bisa bermain bilyard? Ocip pun datang, aku mempersilahkan dia untuk istirahat, tiga pocong kembali muncul padahal beberapa adegan tadi tiga pocong itu tidak teringat, aku menawarkannya pada Ocip agar ia bisa santai menikmati suasana, namun ia menolaknya.

Aku kembali ke meja billyard sebab sekarang giliranku menyodok bola, waktu begitu cepat atau memang tidak ada waktu dengan adegan dan tempat yang berlompat-lompat, sungguh suasana yang absurd, aku menuju meja billyard tapi kenapa yang muncul di depanku adalah Ocip yang sedang membuka tas ranselnya dengan obeng bergagang hijau, kenapa pinggiran tasnya ada yang berwarna biru? Aku terkejut dengan perubahan perubahan yang secepat kilat.

Aku berada di mana, disebuah tempat yang tidak aku ketahui dengan kejadian yang membuatku bingung, waktu yang cepat, tidak ada waktu, dari B aku menuju A untuk melakukan C tapi kenapa aku melihat dan kutuju adalah B dengan perasaan sudah melakukan C, tidakkah itu aneh?
Aku sudah berada di luar ruangan, aneh bukan? Aku sendiri kebingungan. Aku melihat Ocip dari depanku, ia kembali untuk mencari temannya yang ketinggalan, di mana dia? Katanya berada di warung depan tempat billyard, lalu hilang seketika dan menjadi pagi.


*pengingat Suasana tempat seperti di lampu merah Mungkid, Muntilan, Magelang, di Randublatung dan di Karanganyar Solo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar