Minggu, 05 Januari 2014

Aku Bisa Menuliskannya


Grand Theater

Aku tidak bisa menyusunnya, kalimat-kalimat yang berjejer di kepalaku seketika menghilang, apa mereka bersembunyi saat aku akan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan? Apa aku tidak bisa menulis? Tidak, tidak mungkin aku tidak bisa menulis sebab aku pernah menulis beberapa tulisan, walaupun ala kadarnya, namun kenapa aku merasa mengalami kemunduran dalam menulis?


Bukan kebuntuan ide yang menghambat namun semua kalimat yang berada di dalam kepala seperti menguap, tidak jelas jluntrungannya. Aku menulis ini karena sedang mengalami keterhambatan saat menulis peristiwa yang pernah aku alami di Jakarta Pusat bulan Oktober 2013. Jelas, sangat jelas aku mengingatnya sangat detail, namun apalah arti ingatan jika aku tidak bisa menuliskannya, sudah sebulan aku mencoba menuliskannya, sejak bulan Desember 2013 sekarang sudah Januari 2014 namun tulisan itu belum juga selesai. Apalah arti ingatan jika aku tidak bisa menuliskannya, bagaimana dan darimana aku harus menuliskannya, ada yang bisa membantuku?

Peristiwa itu terjadi saat aku melakukan riset untuk membuat sebuah karya seni bermedium video. Berkali-kali aku mengunjungi lokasi itu, sebuah bioskop yang sudah berdiri sejak tahun 60-an sampai sekarang masih bisa bertahan. Bioskop Grand sebuah bioskop yang terletak di jantung Jakarta Pusat, tepatnya di simpang lima segitiga senen.

Aku merasa biasa-biasa saja saat mengunjungi bioskop itu sebab sudah berkali kali aku mengunjunginya, namun selalu muncul ketakutan saat menonton filem di dalam gedung, bukan karena kegelapan ruangannya melainkan jika sebuah clurit atau pisau yang tiba-tiba muncul dari belakangku dikalungkan ke leher. Sebab itulah aku selalu duduk diujung bangku dengan mencondongkan tubuhku ke depan. Bukan ketakutan akan kematian jika hal itu terjadi, jika aku selamat dan semua barang yang kubawa diambilnya dengan apa aku harus menggantinya? Barang yang kubawa adalah barang-barang milik temanku dan aku yakin tidak bisa menggantinya.

Dengan harga tiket masuk untuk menonton filem, lima ribu rupiah pantaslah jika gedung bisokop ini tidak terawat, dindingnya yang nampak putih kecoklatan, ubin yang kusam dan bau pesing di dalam ruang pemutaran, bagaimana bisa membuatnya bertahan sampai sekarang? Bisokop Grand telah kalah dalam peperangan jaman, sebentar lagi akan runtuh dan tenggelam menjadi sebuah kenangan, romantisme masa lalu kejayaan sinema indonesia.

Sudah tidak menjadi rahasia  untuk warga sekitar, mungkin warga se-Jakarta jika kini bioskop Grand adalah sebuah lokalisasi. Lokalisasi para Gay dan Hetero. Ari temanku dari Padang Panjang pernah ditawari seorang perempuan untuk bermain syahwat di dalam gedung bioskop, namun dia menolaknya, wanita itu pergi lalu mendekati seorang laki-laki yang duduk tidak jauh di depannya, Ari menyaksikan adegan, mereka berdua sedang berbicara, entah apa yang mereka obrolkan, Ari tidak tahu, ia hanya mengira-ngira kalau mereka sedang bertransaksi, dan benar saja tidak lama kemudian kedua manusia itu bercinta di dalam bioskop.

Aku juga pernah mengalami sebuah kejadian di dalam gedung bioskop saat menonton filem. Aku memang sengaja tidak duduk lebih memilih berdiri di antara bangku penonton. Aku sadar dan aku tahu kalau ada orang yang sedang mendekatiku dari arah kiri, mau apa dan siapa dia aku tidak tahu bahkan aku mencoba untuk tidak mempedulikan itu, aku tetap memandang lurus ke layar filem sesekali aku meliriknya sebab aku mulai takut. Lengan kiriku dicolek-colek oleh seseorang, aku mencoba tidak peduli namun risih juga karena colekan itu, aku pun menoleh ke arahnya, kulihat seorang laki-laki tua tersenyum kepadaku, sebuah senyuman yang dipaksakan manis justru malah membuatku muak, eneg dan jijik. Aku menjaga jarak dengan laki-laki tua yang menggodaku agar dia tidak bisa mencolek-colekku lagi, mungkin karena tidak mendapat respon dariku tidak lama kemudian ia melintas di depanku memasang muka cemberutnya. “Bodo amat, kalau muda dan ganteng mah bakal gue goda balik.” Komentarku dalam hati.

Aku lupa, hari apa ya hari itu? Aku, Umam, Zikri, Andri, Ghembrang dan kalau tidak salah Ageung pun ikut, aku sudah agak lupa. Padahal baru tiga bulan, sebuah kejadian pun sudah agak lupa bagaimana jika aku tidak menuliskannya, apakah ingatan itu akan bertahan lama?

Sejak pukul empat sore kami sudah duduk-duduk santai di lobi bioskop Grand, awalnya hanya ada kami dan satu dua orang yang mulai datang menjelang filem yang akan diputar. Aku sedang jongkok bersandar pada sebuah tiang persegi empat yang lumayan lebar dan kusam, menunggu pintu masuk ruang pemutaran filem sambil mengawasi Ghembrang yang jongkok di depanku bersandar pada sebuah dinding kusam di temani oleh Andri, sementara Zikri jongkok bersandar pada sebuah teralis, aku lupa di mana posisi Umam dan Ageung saat itu.

Tidak hanya Ghembrang yang kuawasi, semua yang ada disitu tak luput dari perhatianku, beberapa laki-laki melintas di depanku namun pandangan mereka tidak lepas dari Ghembrang seperti mata elang yang mendapat incaran mangsa. Laki-laki semakin berdatangan, detak jantungku mulai tidak tenang sebab semua laki-laki yang ada di situ memperhatikan kami, terutama memperhatikan Ghembrang, “Bangsat.” Makiku dalam hati saat merasakan sebuah kondisi yang tidak mengenakan.

Pintu ruang pemutaran filem belum lah dibuka, kami memutuskan untuk masuk, entah dorongan apa yang membuat kami memutuskan untuk masuk sementara perasaan tidak enak sedang membayangiku. Benar saja saat kami mencoba masuk, semua laki-laki yang tadi memperhatikan kami mulai menyusul dari belakang.“Maaf, filemnya belum dibuka masih setengah jam lagi.” Kata petugas pemeriksa tiket. “Ah sial, kenapa ini.” Gerutuku dalam hati merasai perasaan yang tidak mengenakan, was-was.

Kami keluar menuju lobi, dengan sigap, seketika seperti di komando semua laki-laki itu langsung membentuk serupa benteng setengah lingkaran melingkari kami, mundur tidak bisa di belakang kami ada dinding yang menghadang, “Ayo kita keluar, Mam.” Kataku pada Umam, dia pun mengangguk, tanpa mempedulikan Zikri, Andri dan Ghembrang aku mencari celah untuk melewati mereka, terus berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang sampai berhenti di sebuah halte yang tidak jauh dari Bioskop Grand, ternyata semua mengikutiku.

Perasaanku agak tenang setelah keluar dari Bioskop Grand, “Anjing, beraaaak.” Maki Umam sesampai di bioskop, ia nampak takut akan apa yang terjadi barusan. “Kenapa malah keluar?” tanya Andri entah kepada siapa, mungkin pertanyaan itu ia tujukan kepadaku. aku pun menjawabnya “Emang lu merasa aman?” dengan santainya ia menjawab “Gue sih santai aja, kalau kalian ga keluar gue juga ga akan keluar.”

“Sepengalaman gue, suasana tadi tuh suasana yang sedang tidak aman.” Suasana itu seperti suasana seekor domba yang sedang dikerumuni serigala.

“Jadi kita masuk apa enggak nih?” tanya Zikri.

“Lu aja Zik sama Anib, Ageung, Andri dan Ghembrang.” Jawab Umam.

“Kalau lu mau masuk, masuk aja Zik, hari ini gue ga masuk.” Jawabku “Mbrang lu di sini saja sama gue.”

Ghembrang ngeyel dan ingin masuk ke dalam bioskop bersama Andri, Zikri dan Ageung, sementara Umam memilih untuk tidak masuk dan menunggu mereka di halte bersamaku. Aku melarang Ghembrang untuk masuk namun dia masih tetap ngeyel sampai membuatku marah. “Kalau di sini tidak ada gue, gue ga peduli lu mau masuk atau mau ngapain aja, diperkosa bahkan sampai mati gue gak peduli, itu urusan elu dan tanggung jawab elu, tapi ini tanggung jawab gue ke Nyokap, karena gue pun ragu di dalam nanti gue bisa menjaga elu apa enggak.” Menyesal aku bicara seperti itu, tapi bagaimana lagi, Ghembrang adikku cewek satu-satunya.

Aku kembali ingat, selama kejadian yang kutulis ini ternyata Ageung tidak ikut.

Aku, Umam dan Ghembrang memutuskan untuk tidak masuk kedalam bioskop, kami akan di sini saja sambil menunggu Zikri dan Andri yang sedang berada di dalam bioskop sambil sms-an denganku, mereka tetap saja memintaku untuk masuk namun aku tidak mempedulikan ajakannya.

“Suasananya jadi tidak enak, gue dilihatin sama dua orang laki-laki.” Tulis sms Zikri.

“kalau lu merasa tidak aman, lebih baik keluar saja.” Balasku

Zikri dan Andri pun datang mereka memilih keluar bioskop dan tidak menonton filemnya. Aku lupa apa yang mebuat Zikri dan Andri merasa tidak aman di lobi bioskop Grand sore itu.

Kami gagal dalam riset Bioskop Grand sebab kami salah strategi, seharusnya sejak awal kami mengajak ngobrol orang-orang yang ada di situ sehingga mereka mengenal kami dan kami bisa leluasa masuk ke bisokop Grand tanpa berpura-pura menjadi pengunjung. Riset untuk membuat karya bermedium video—lupa judulnya—tentang Bioskop Grand terselesaikan berkat Ari salah satu kawan yang ikut dalam project Ad Hoc akumassa, Ibnu dan Om Paul.

Terakhir aku mendengar kabar dari Ari kalau Bioskop Grand sudah dijual dan isunya akan dijadikan Sevel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar