Tengah malam, aku ingin mengetahui kronologi dan peristiwa yang terjadi di urut sewu, sebab aku hanya mengetahui sekilas saja dari obrolan kawan-kawan aktivis di media sosial. Tiga tahun yang lalu, tiga orang petani ditembak oleh militer dan sampai sekarang pemagaran sepihak yang dilakukan oleh TNI AD sedang berlangsung dan mendapat perlawanan oleh masyarakat urut sewu, panjang umur lah perlawanan terhadap penindasan.
Solidaritas kebudayaan pun sudah terbangun di berbagai kota di nusantara, memberi dukungan kepada masyarakat urut sewu, solidaritas dan dukungan ini bisa diakses di urutsewu.tumblr.com aku membacanya dengan teliti sampai aku memahami apa yang terjadi di sana, rasa muakku atas kelakuan militer terhadap masyarakat urut sewu semakin menjadi, aku marah, namun apa yang bisa kulakukan di tengahnya malam saat semua sedang terpejam? aku hanya rebahan terdiam dengan handphone tergenggam di tangan kiri, berpikir dan berpikir betapa banyaknya penindasan yang terjadi di nusantara, kawan-kawan Bali sedang berjuang menolak reklamasi, masyarakat pegunungan kendeng berjuang melawan korporasi semen. "ah iya, bagaimana perkembangan perlawanan masyarakat pegunungan kendeng?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul disela-sela pikiran yang sedang berkecamuk. Bersatulah semua perlawanan, kepalkan tangan dan hancurkan tepat dititk nadi perhitungan.
Aku mencari berita terbaru soal pegeksploitasian pegunungan kendeng, jangan tanyakan di mana aku mencari berita terbaru itu, kalian pasti tahu tapi jika tidak tahu, malu lah kepada kebodohan kalian. Aku membaca sebuah portal online mongabay.com Aan Hidayah, anggota JMPPK(Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) Rembang kepada mongabay-indonesia mengatakan, di kalimat itu aku berhenti membaca lalu tertawa pelan, si babi ternyata aktif juga di Rembang, bukan keaktifannya yang membuatku tertawa, mengingat wajah dan tingkah lakunya yang membuatku tertawa, dia bertubuh gemuk, berambut keriting, bermata juling gaya dan bicaranya selalu membuatku ingat Patrick tokoh animasi serial Spongebob. "Bagaimana kabarnya? dan Kegiatannya apa sekarang? aku dengar dari beberapa kawan dia sudah menikah?" mataku tinggal lima watt mengharapkan jawaban dari pertanyaan itu yang kubawa tidur, aku terpejam.
Pukul delapan pagi aku bangun dari tidur lalu mengambil segelas air minum, dari dapur ibu berteriak memintaku untuk membeli shampo, dengan suara yang keras aku kembali menanyakan shampo apa, ibu menjawab shampo hitam untuk nenekmu, dua ribu saja ambil di kotak. jawabnya. Aku mengambil uang di kotak, dengan langkah yang gontai aku menuju warung Bulekku, letaknya di selatan rumahku. sambil jalan kaki menuju rumah setelah membeli shampo aku melihat mobil berwarna abu-abu berjalan pelan, semakin maju kok semakin minggir, apa sopirnya ngantuk? jika aku tidak minggir aku yang akan tertabrak, tepat di samping depanku mobil itu berhenti, aku melihat kedalam, siapa sih orang ini? nyawaku yang berkeliaran saat mimpi tadi belum sepenuhnya kembali datang, aku mengamati sopir yang tersenyum-senyum kepadaku, oh Aan, kampret. makiku dalam hati, aku membuka pintu depan sebelah kiri dan memakinya, Asu, buruan putar dan parkir di depan rumah. kataku.
Aku mempersilahkannya masuk ke dalam rumah, dan menawarkan secangkir kopi. Aku tinggal dia di rumah dan pergi ke warung budheku, hutang lagi. Aku kembali ke rumah membawa dua cangkir kopi, sambil berbasa-basi kami menikmati kopi. Tumben lu bawa mobil, biasanya naik truk tanyaku sambil tertawa, dia pun menjawab, iyalah sekali-kali bawa mobil masa susah mulu kaya lu, jawabnya sambil tertawa. Aku menanyakan tumben-tumbenan dia datang ke Randublatung, padahal di sini kami (kawan-kawan) tidak membikin sebuah acara, mungkin ada sesuatu hal yang penting. Perkiraanku ini meleset sebab dia menjawab hanya berkunjung ke rumah saudara-saudaranya (aku dan kawan-kawan), aku tidak mudah percaya dengan jawabannya, jika memang ingin berkunjung pastilah dia naik truk tidak membawa mobil, aku terus mengejar, berbelit memojokkannya untuk mencari tahu maksud kedatangannya. tak kalah bodohnya, dia pun bisa mengetahui maksud dari semua pertanyaanku yang mengejarnya, semakin pandai saja ni orang. gumamku dalam hati. Dan dia menjelaskan maksud kedatangannya ke sini.
Aku ke sini, dijadikan tumbal oleh Kang G. kamu tahu aku seorang Punk. ya, jawabku dalam hati. sebenarnya aku tidak mau ikutan dalam pemilu dan mensukseskannya namun bagaimana lagi, ditingkatan birokrasi daerah dan pusat perlawanan kami selalu tertahan. Aku tidak akan mencoblos, katanya. Masyarakat P. mencalonkan satu orang untuk dijadikan anggota Dewan di Daerah P, siapa? tanyaku. Mba A. jawabnya. oh Mba A. itu ya Adik nya si A.? tanyaku. iya. Apa dia mampu menghadapi garong-garong di gedung dewan? Dia pasti mampu dan bisa, kami selalu mendukungnya dia sudah dibekali ideologi dengan mental yang sudah matang dan kami akan mendampinginya. Saat pendaftaran di partai 2 dia di remehkan, mana mungkin seorang wanita bisa mempunyai massa banyak, masyarakat P. kok di lawan, pihak partai meminta mba A. membawa 100 massa-nya agar bisa diterima menjadi calon di Partai 2 namun yang dibawa lebih dari 300-an. kami pun tertawa, kenapa tidak mendaftar di partai 4? di partai 4 sudah penuh calonnya. oh, jawabku singkat. Lalu, apa kabar ini yang ingin kamu sampaikan? bukankah Dapilnya mba A cuma di sana saja? Itu salah satu kabar yang kubawa, agar sedulur-sedulur di sini tahu dan mengerti untuk apa masyarakat P. mencalonkan mba A. menjadi anggota Dewan.
Ini ada juga titipan dari pusat oleh kang G. maksudnya pusat Senayan? iya, no 7 dari partai 4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar