Sabtu, 25 April 2015

Penukar Uang

Aku sedang duduk menikmati segelas kopi yang baru saja kubuat sambil menikmati beberapa batang rokok. Sore yang damai setelah tujuh jam bekerja aku bisa santai menikmati waktu hidupku.

Aku duduk di ruang tamu lurus menghadap pintu masuk. Sore itu hanya ada seorang ibu yang sedang momong anaknya melintas di depan rumah sambil membawa mangkuk di tangan kirinya dan tangan kanan memegang sendok, ibu itu sedang berjalan-jalan sambil menyuapi anaknya.


“Mas, mau tukar uang ribuan gak? Ini ibu ada dua ribuan totalnya dua ratus ribu, untuk stok lebaran atau untuk parker?” suara itu muncul dari sebelah kananku. Sambil membawa uang dua ribuan di kanan kirinya ibu bos menuju ke arahku yang sedang duduk santai.

“buat apa ya? Lagi pula lebaran juga masih lama.” Ucapku dalam hati sambil menerima uang baru dua ribuan itu. “uang ini masih baru, sepertinya baru ditukar dari bank, boleh juga sih untuk punya saja.”

“engga Bu, belum kepengen.” Jawabku kepada Ibu bos yang sudah duduk di kursi menghadap ke timur, saat itu aku sedang menghadap ke utara menghadap ke jalan kampong.

“Ini lho tadi pagi Ibu dianterin uang baru sama mba Parti totalnya satu juta rupiah, uang receh dua ribuan untuk parker kalau sedang ke Beringharjo atau ke Klewer.”

Aku menebak, mungkin mba Parti inilah yang kerjanya menukarkan uang baru. Ibu bos bercerita kalau dulu sebelum menjadi pengusaha Tas Batik, Ibu pernah menjadi penukar uang di Bank Indonesia cabang Jogjakarta. Mba Parti ini adalah temannya Ibu bos semasa menjadi penukar uang baru.

Ibu bos bercerita panjang lebar tentang pengalamannya sore itu, menjelang lebaran banyak sekali orang yang tidak mau mengantri sehingga memakai jasa para penukar uang ini. Saat lebaran, seorang penukar uang bisa menukarkan uang hingga sepuluh juta rupiah. Sampai ibu bos rela gonta-ganti baju agar bisa mengantri lagi untuk menukarkan uang. Satu penukar uang boleh menukar uang hanya sekali, bagaimanapun otak, untuk bertahan hidup ia akan terus berputar mencari jalan.

Dari setiap orang yang memakai jasa penukaran uang biasanya di kasih lima puluh ribu rupiah untuk upahnya, bayangkan saja jika menjelang lebaran si penukar uang bisa mendapatkan lima pelanggan, berapa uang yang bisa mereka dapat dalam sehari itu? Itupun hanya saat menjelang lebaran saja. Sebab tradisi masyarakat jawa saat lebaran salah satunya adalah membagi-bagikan uang kepada anak-anak kecil tetangga, keponakan dan anak-anak tamu. Bagaimana dengan kotamu? Aku kira sama dengan yang di Jogja, Surakarta, Blora dan kota-kota tempat kalian tinggal. Jika tidak seperti itu mungkin hanya di keluargamu saja dan itu keren.

Di hari-hari biasa, para penukar uang ini sama sekali tidak mendapatkan pelanggan. Bagaimanapun otak untuk bertahan hidup ia akan terus berputar mencari jalan. Dengan mencari pelanggan, biasanya mereka menawarkan jasa penukaran uang itu di toko-toko agar jasanya bisa terpakai. Belum tentu setiap hari mereka mendapatkan satu pelanggan, bisa saja dalam satu minggu mereka hanya mendapatkan satu orang yang memakai jasanya bukan?

Dari artikel disini ternyata para penukar uang sudah ada sejak zaman kerajaan.



1 komentar:

  1. Casino City | Drmcd
    Experience a new world of excitement with 보령 출장마사지 exciting, luxurious, 대구광역 출장안마 and 여주 출장안마 immersive 계룡 출장안마 gaming machines! Gaming machines available at this 통영 출장샵 casino can be found anywhere in the world.‎Restaurants · ‎Gaming

    BalasHapus